“Demi Tuhan aku sangat mencintainya” kalimat itu terlontar dengan tegas dari mulut MIR bahkan tidak ada keraguaan menyertai kalimat itu.
“Cinta ?? Apa kau tau berapa lama cinta menahan lapar?? Berapa lama cinta bisa menahan rasa dingin dan badai salju?? Anak ingusan seperti mu tidak mengerti apa artinya cinta” di seberang MIR duduk lelaki separuh baya bertubuh besar dan mata yang besar, wajahnya memerah seperti menahan amarah. Tatapannya menggeram ke arah MIR.
“Apa kau tau saat ini kau berhadapan dengan siapa??” MIR menganggukkan kepalanya.
“Aku sangat sadar jika saat ini aku berhadapan dengan orang paling kaya di kota Daegu, bahkan aku sangat beruntung karena bisa bertemu langsung dengan anda” Ucap MIR dengan tenang, sama sekali wajahnya tidak terlihat panik. Sementara lawan bicaranya semakin tampak sangar dengan beberapa bodyguard yang siap menghantam MIR jika ia berani berbuat macam-macam.
“hahahahhaha....bagus kalau kau tau itu, lalu kau masih berani mengajak anak ku berkencan??” MIR menghembuskan nafas panjang. Kali ini ia menatap lekat ke mata lawan bicara yang tak lain adalah Ayah dari gadis yang ia cintai.
“Hubungan kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekayaan yang anda miliki, semua murni karena kami saling mencintai”
“Jangan bicara cinta di hadapan ku, karen kau tidak tau apa-apa tentang cinta. Catat dalam otak mu “ lelaki paruh baya itu menoyor kepala MIR.
“aku tidak akan pernah rela kau berkencan dengan anak perempuan ku, atas dasar apapun bahkan atas nama cinta sekalipun” Ucap Ayah si gadis dibarengi dengan tatapan ganas seolah-olah siap menelan MIR hidup-hidup.
“ Dan paman harus selalu ingat bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja untuk memperjuangankan cinta ku” Balas MIR tak kalah garang hanya MIR terlihat mampu mengendalikan diri.
“Aku tidak main-main dengan ucapan ku, aku akan berusaha memisahkan kalian berdua, apapun caranya...APAPUN CARANYA !!!” dengan wajah bringas Kim Sooro meninggalkan MIR yang mematung di dalam restoran bergaya eropa. Alunan musik klasik sedikitnya mampu menenangkan kepanikannya, sungguh ini di luar dari rencananya hari ini. Harusnya saat ini ia menikmati makan siang bersama Kim Yoora kekasihnya namun MIR dikejutkan dengan kedatangan ayah Kim Yoora yang mengancamnya. MIR segera mengambil HP dan menghubungi Yoora. Wajah MIR berubah panik ketika Yoora sama sekali tidak menjawab telponnya.
“Yoora...tolong angkat telfonnya” gerutu MIR.
)))
Di tempat lain, di sebuah cafe dengan nuansa arabian night Yoora tertunduk tanpa banyak bicara bahkan ia tidak berani menjawab panggilan dari HP-nya yang sedari tadi berdering. Dengan sangat jelas ia membaca nama MIR di layar ponselnya namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjawab panggilan dari MIR. Di hadapannya saat ini duduk seorang Ibu dengan pakaian mewah dan pershiasaan mahal, Yoora tidak bisa mengacuhkan keberadaan perempuan ini.
“Kim Yoora” Perempuan itu mengeja nama Yoora dengan tegas.
“Nde...” Jawab Yoora sedikit gugup.
“Aku harap kau sudah tau mengapa aku mengajak mu bertemu?” Yoora menggeleng .
“huh....” Perempuan yang ada di seberang Yoora menghela nafas panjang. Riasan di wajahnya membuat kesan tak bersahabat semakin jelas.
“Aku ingin membicarakan hubungan mu dengan MIR” sejenak Yoora melongo ia baru saja mengenal perempuan yang ada dihadapannya kurang lebih 20 menit yang lalu dan sekarang ia mengajaknya membicarakan hubungannya dengan MIR, Yoora semakin penasaran dengan sosok perempuan itu.
“Hubungan ku dengan MIR??? Apakah ini ada kaitannya dengan anda?? “ Tanya Yoora heran.
“Tentu saja, terlebih lagi keselamatan MIR” Jawab perempuan itu sembari meminum segelas beer.
“Maksudnya??” Yoora kembali bingung dengan peryataan perempuan itu.
“Aku ingin kau mengakhiri hubungan mu dengan MIR, ini semua demi kebaikan mu dan keselamatan MIR” Yoora tidak hanya terkejut namun ia juga terbawa emosi mendengar ucapan perempuan itu.
“Kau ini !!! apa mau mu sebenarnya?? Seenaknya meminta ku untuk mengakhiri hubungan ku dengan MIR, siapa kau ini??” ucap Yoora dengan nada kesal.
“Kalau aku bilang aku ini Ibu nya MIR kau juga tidak akan percaya kan??” mulut Yoora mendadak terdiam, ia masih tidak percaya jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Ibunya MIR. Selama ini MIR mengatakan jika MIR sudah tidak memiliki Ibu lagi, namun ia juga tidak menjelaskan apakah ibunya meninggal atau pergi jauh darinya.
“Aku sangat tau latar belakang keluarga mu, siapa ayah mu dan orang-orang yang berdiri di belakangnya” Yoora mendelik ke arah perempuan yang mengaku sebagai Ibu kekasihnya itu. Jujur saja saat itu ia kehilangan kata-kata.
“ Sebagai Ibu aku sangat mengkhawatirkan keselamatan anak nya, jadi aku mohon padamu agar kau mengakhiri hubungan mu dengan MIR ini semua juga untuk kebaikan mu” lanjut perempuan itu. Yoora melempar pandangannya ke luar jendela, ia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk merangkum kalimat yang tepat agar apa yang ia rasakan saat ini tersampaikan.
“Sejak awal aku mencintai MIR, tidak ada secuil keinginan dalam hati ku untuk meninggalkannya, aku menyayangi MIR tulus, aku tidak membawa nama besar ayah ku dalam hubungan kami jadi anda tidak perlu khawatir dengan campur tangan ayah ku” kalimat itu muncul dengan nada bergetar dari mulut Yoora, matanya memerah menahan butiran airmata yang hampir jatuh.
“ Dan jika kau benar-benar seorang Ibu, bukan cara ini yang harusnya kau pilih, harusnya kau lebih siap berkorban demi kebahagian anak mu, bukan mengorbankan kebahagian anak mu” Yoora segera berdiri dan meninggalkan perempuan itu.
“ Ingatlah satu hal, aku tidak akan meninggalkan MIR, meskipun kau mengancam ku” ucap Yoora sebelum ia keluar dari cafe.
“Dasar anak tidak tau diri, kita lihat saja apa yang bisa kau lakukan agar MIR tidak berpisah dengan mu “
Di tengah hembusan angin di musim dingin, dan riuh kendaraan Yoora mempercepat langkahnya. Hentakan kakinya terdengar begitu tergesa-gesa dan penuh emosi, sekilas ia masih teringat akan ucapan Ibu-nya MIR yang menyuruhnya meninggalkan MIR dengan alasan yang tidak bisa ia terima. Sesulit apapun hubungan yang ia jalani bersama MIR ia tidak pernah berniat untuk meninggalkan MIR.
“TIIIITTTT” Yoora tersentak ketika sebuah mobil mengklasonnya dengan keras.
“Hey...nona perhatikan jalan mu” teriak seseorang dari dalam mobil.
“Maafkan saya...maafkan saya” Yoora membungkukkan badannya berkali, dan tanpa ia sadari airmatanya mengalir. Wajahnya berubah menjadi sangat bingung dan panik, berkali-kali ia mengusap wajahnya dan berusaha menenangkan dirinya namun ia seperti berada di sebuah labirin tak berujung, terjebak dalam lingkaran tanpa celah dan tak seorang pun mendengar teriakannya. Yoora semakin panik saat menyadari jika tak seorang pun yang berlalu-lalang di sekitarnya sama sekali tidak ia kenali, seluruh persendiannya lemas hiangga seseorang mendekapnya erat dari belakang. Yoora memberanikan diri melihat siapa gerangan yang mendekapnya, dan tanpa ragu Yoora tersenyum saat menyadari bahwa orang itu adalah MIR, kekasihnya.
“MIR...” Yoora segera menghambur dalam pelukan MIR, dengan lembut MIR membelai rambut Yoora, mencium lembut kening Yoora dan mengajaknya ketempat yang lebih aman.
)))
“Maafkan aku” ucap MIR dihadapan Yoora yang matanya masih sembab.
“emh...” Yoora menatap heran ke arah MIR.
“Maafkan aku Yoora, harusnya aku menemani mu hari ini, tapi....”
“Ini semua bukan salah mu” potong Yoora
“Hari ini terlalu mengejutkan untuk ku hingga aku tidak mampu menerimanya” ucap Yoora sembari meminum teh yang ada dihadapannya. Saat ini mereka berada di warung teh pinggir jalan, meskipun warung itu sangat kecil dan usang namun tempat ini mampu membawa suasana damai bagi mereka.
“Meskipun hari ini terasa sangat berat, namun aku bisa tenang karena kau ada di hadapanku saa ini “ Yoora kemudian menggenggam tangan MIR erat. MIR membalasnya dengan mengusap pipi Yoora yang merah karena dingin dan kembali merangkulnya dari belakang. Sesaat mereka menikmati waktu berdua membiarkan semua kejadian buruk hari ini terbang terbawa angin dan menjauhi mereka.
“Hari ini aku bertemu dengan ayah mu” MIR membuka percakapan, Yoora kemudian meregangkan pelukannya.
“Tidak banyak yang kami bicarakan, namun apa yang diucapkan ayah mu membuatku semakin yakin untuk selalu menyayangi mu” Yoora menatap dalam ke mata MIR yang tanpa ragu mengatakan kalimat itu.
“Dia menyuruhku untuk meninggalkan mu “ Yoora kembali tidak dapat menahan airmatanya, rentetan kalimat yang MIR ucapkan membuatny semakin enggan untuk meninggalkan MIR. MIR lalu mengusap airmata Yoora.
“Untuk mu dan demi anak yang ada dalam rahim mu, aku tidak akan pernah melepaskan mu hingga aku mati, aku sangat menyayangi mu “ MIR kemudian mencium perut Yoora yang didalamnya ada kehidupan lain buah cinta mereka. maka semakin deraslah airmata Yoora.
“Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga mu dan anak ini” Yoora mengangukkan kepalanya.
“Hari ini pun aku bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai Ibu kandung mu” MIR tercengang mendengar pernyataan Yoora.
“Perempuan itu bernama Goo Hyera pengacara terkenal dan seorang istri dari politikus paling berpengaruh di Seoul”
“Kenapa kau tidak mengajak ku untuk bertemu denganya?” protes MIR
“Lalu apa yang kalian bicarakan ?? kau tidak apa-apakan??” tanya MIR panik, Yoora menggeleng dan tersenyum.
“Benarkah dia Ibu mu?? selama ini aku tidak tau banyak tentang Ibumu namun hatiku mengatakan jika ia memang benar Ibumu” MIR menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya.
“ sama seperti ayah ku ia menyuruhku untuk mengakhiri hubungan ku dengan mu, karena dia khawatir dengan keselamatan mu, tapi...aku tidak bisa melakukannya, aku terlalu membutuhkan mu dan tidak bisa meninggalkan mu” ucap Yoora dengan sedikit panik. MIR kemudian memeluk Yoora yang menjadi panik.
“Ada apa sebenarnya?? Kenapa semuanya menjadi seperti ini ?? mengapa mereka ingin memisahkan kita ??” Yoora memberondong dengan pertanyaan yang hari ini menjadi tanda tanya besar dan penghalang untuk perjalanan cinta Yoora dan MIR.
“Tenanglah aku akan selalu menjagamu” ucap MIR
)))
Peristiwa beberapa tahun itu masih terus terekam dalam benak Kim Sooro, peristiwa kebakaran yang melanda pabrik nya telah menghanguskan aset perusahaan yang paling berharga dan yang paling memukulnya adalah kehilangan orang yang sangat ia cintai yaitu istrinya. Saat peristiwa kebakaran itu istrinya menjadi korban dan mayatnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Di balik peristiwa kebakaran itu Kim Sooro menemukan beberapa kejanggalan, dan ia menyimpulkan bahwa peristiwa ini adalah sabotase dari beberapa pihak yang terlibat kasus sengketa lahan dimana pabrik miliknya berdiri, dan salah satu orang yang terlibat dalam peristiwa kebakaran itu adalah Goo Hyera yang saat itu menjadi pengacara dari seorang politikus yang ingin mengusai lahan milik Kim Sooro, meskipun ia mengetahui siapa dalang dari kebakaran ini, Kim Sooro tidak bisa membawa mereka ke peradilan dan selama bertahun-tahun lamanya mereka bisa tertawa menikmati lahan hasil perampasan lahan itu dan sejak saat itu Kim Sooro berjanji akan membalas dendam kepada mereka, dan ia sama sekali tidak menyangka jika Yoora harus terlibat hubungan percintaan dengan anak dari musuhnya. Namun karena dendam yang amat dalam Kim Soora tidak lagi memiliki akal sehat untuk menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai. Ia akan terus berusaha memisahkan Yoora dengan MIR.
“Apapun alasan mu kau harus mengakhiri hubunganmu dengan MIR” ucap Kim Sooro dengan nada tinggi di hadapan Yoora.
“Aku tidak akan meninggalkan MIR” balas Yoora tidak kalah keras.
“Kau berani menentang ku??!!!!”
“Kami saling menyayangi dan kami rasa kami tidak merugikan perusahaan ayah”
“Jangan berdebat dengan ku, segera kau putuskan MIR sebelum aku melakukan kekerasan kepada kalian”
“Apapun ancaman ayah aku tidak akan merubah keputusan ku” ucap Yoora dan bergegas meninggalkan ruang tamu dimana mereka berdebat.
“ PENJAGA !!!” 3orang laki-laki bertubuh besar dengan sigap menangkap tubuh Yoora, meskipun sekuat tenaga berusaha melepaskan diri tetap saja Yoora takluk dan tidak bisa berbuat banyak.
“Aku ini anak mu ayah...kenapa kau begitu tega melakukan ini ??!!!” Ucap Yoora diantara suaranya yang mulai serak.
“Ayah sudah berulang kali memperingatkan mu, dan ini terakhir kalinya ayah memperingatkan mu, ayah tidak akan segan-segan mengukum kalian berdua. Bawa Yoora ke kamarnya”
“Aku tidak akan berhenti karena ancaman ayah, aku akan terus menyayangi MIR” teriak Yoora ketika para bodyguard itu memaksanya untuk masuk ke kamarnya.
“MIR...Kau ingin bermain-main dengan ku rupanya, baiklah aku ikuti permainan mu kalau perlu kau ajak ibu mu yang brengsek itu “ Kim Sooro menenggak beer dengan penuh emosi.
)))
“Untuk apa ibu menemui Yoor?” Tanya MIR sinis. Dihadapannya Ibunya duduk tenang menikmati hidangan makan malam.
“Jadi gadis itu sudah menceritakn semuanya padamu” jawab ibunya.
“Aku harap ibu tidak mencampuri urusan kami”
“Ibu hanya mengkhawatirkan keselamatan mu, itu saja” mata MIR menatap tajam perempuan yang ia kenal sebagai ibunya namun jauh dari sosok Ibu yang ia harapkan.
“Sejak kapan ibu mengkhawatirkan keselamatan ku?? Aku tahu betul sifat ibu, ini semua hanya permainan licik ibu”
“Bisakah kau sopan terhadap ibu mu sendiri”
“Tidak !! aku cukup muak dengan semua tindakan ibu, sejak aku kecil ibu iak pernah menganggapku sebagai anak hanya karena aku hasil hubungan gelap ibu dengan laki-laki yang aku sendiripun tidak tau identitasnya. Bertahun-tahun aku dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu, disembunyikan layaknya sebuah aib, dan selalu di tekan agar mengikuti semua kemauan ibu”
“Cukup MIR” Potong ibunya
“Ibu harus mendengarkan ku sekarang, jika sekarang ibu mengkhawatirkan keselamatan ku tidak seharusnya ibu meminta Yoora untuk meninggalkan ku”
“aku bilang cukup MIR, kau tidak tau betapa kerasnya kehidupan ini kalian hanya sepasang kekasih yang terbuai melankolis cinta”
“AKU TAHU SEMUANYA IBU !!! karena aku dibesarkan tanpa cinta maka aku akan menjaga rasa cinta yang aku miliki, dan Ibu tidak akan bisa memisahkan kami” ucap MIR disela-sela nafasnya yang tak beraturan.
“Kau akan celaka jika tetap bersama Yoora karena ayah Yoora sangat membenci mu dan keluarga kita” jawab Ibunya MIR dengan matanya yang melotot ke arah MIR.
“Tentu saja bukan itu alasannya, jika aku tetap berhubungan dengan Yoora maka secara tidak langsung identitasku akan terbongkar dan itu akan menghancurkan karir mu dan kau akan kehilangan segala kekuasaan dan kemewahan ini, itukan yang ada di benak ibu saat ini”
“CUKUP!!! Aku melakukan ini untuk mu”
“Aku tidak membutuhkan bantuan ibu, dan jangan pernah menganggu Yoora lagi” dengan wajah penuh amarah MIR meninggalkan ruangan makan dan Ibunya yang berusaha menahan ledakan emosi lantaran ucapan dari anaknya sendiri.
)))
Salju di awal bulan November mulai turun, bahkan sangat lebat, kabut dan hawa dingin mulai menyelimuti Seoul. Hampir 3 bulan MIR hilang kontak dengan Yoora, jangankan untuk menemuinya untuk sekedar berbicara melalui telepon pun sangat susah. MIR menatap lurus ke jalan raya yang dipenuhi salju dan kaca mobil yang berkabut, sesekali ia tersenyum melihat Yoora yang terlelap disampingnya. Ia tahu perbuatanya mengajak Yoora kabur dari rumah adalah tindakan bodoh dan beresiko, namun ia tidak bisa menahan lebih lama lagi rasa rindunya pada Yoora, ia akan membawa Yoora sejauh mungkin dan hanya ada mereka berdua. 3 bulan berpisah tak sedikitpun mengurangi rasa cinta MIR pada Yoora bahkan sebaliknya.
“Kita akan pergi kemana??” tanya Yoora ketika ia tersadar dari tidurnya.
“Ke tempat yang tak seorangpun bisa menganggu kita” Yoora tersenyum bahagia dan merangkul tangan kanan MIR.
“Yoora...MIANHE !!” ucap MIR lirih dan sedikit serak.
“Wae ??” tanya Yoora heran.
“Maafkan aku karena membuatmu menderita seperti ini, karena mencintai ku kau banyak menanggung penderitaan, maafkan aku tidak bisa membahagiakan mu” ucap MIR dan airmatanya mengalir seketika.
“MIR...aku merasa sangat bahagia jika bersama mu, aku merasa tenang saat mendengar suara mu, bahkan aku merasa sempurna saat melihat mu tersenyum. aku bahagia memiliki mu MIR, tolong jangan tinggalkan aku” Ucap Yoora
Keheningan merangkul mereka berdua, tak banyak yang ingin mereka bicarakan saat ini hanya menikmati waktu yang terus bergerak. Membiarkan segala ketakutan menhilang bersama hawa dingin dan kehangatan cinta menyelimuti mereka berdua.
“Aku akan mengajak kalian menonton film” ucap MIR
“Kalian?? Apakah ada orang lain selain kita??” tanya Yoora heran, MIR menggelengkan kepalanya.
“Aku, kamu, dan...” MIR membelai perut Yoora yang sedikit membesar, Yoora tersenyum lega dengan perlakuan MIR barusan.
“Tapi kita mau nonton film di mana?? Di daerah seperti ini mana ada bioskop yang buka?” Yoora celingukan mencari bioskop
“Tenang saja aku sudah memesan bioskop spesial untuk kalian”
“Kau tidak sedang bercanda kan ??” Yoora memastika
“Aniyo...aku justru sangat serius”
“Baiklah sepertinya ayah mu mulai gila” ucap Yoora sembari mengelus perutnya lembut.
)))
“CARI KE SEGALA SUDUT SEOUL, DAN JANGAN KEMBALI SEBELUM YOORA DITEMUKAN !!!” Kim Sooro kembali gusar ketika Yoora berhasil melarikan diri dari kamarnya, dan ia langsung menunjuk MIR sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk masalah ini.
“Kali ini tidak akan ku biarkan kau hidup” ucap Kim Sooro dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya. Ia mengerahkan seluruh pengawalnya untuk mencari keberadaan Yoora. Kebenciannya kepada keluarga MIR semakin menjadi bahkan lebih besar daripada sebelumnya. Kejadian masa lalu kembali muncul dan berebut untuk memenuhi pikiran Kim Sooro hingga ia dia dikuasai amarah dan tidak mampu mengendalikan diri.
“Yoora, karena kau yang memulai maka kau harus bertanggung jawan pada ayah” Ucap Kim Sooro menggeram.
)))
MIR dan Yoora tiba di sebuah lapangan yang luas dan hanya ditumbuhi beberapa pohon yang daunnya telah habis tertutup salju. Meskipun butiran salju telah berhenti turun namun hawa dingin dan angin masih dingin menusuk tulang-tulang mereka, bahkan mereka tidak berani untuk keluar dari dalam mobil. Yoora menebar pandangan di sekelilingnya saat ini, benar-benar sepi bahkan cahaya dari lampu penerang jalan hanya terlihat temaram saja.
“Bagaimana ?? kau suka tempat ini ??” MIR mencairkan suasana.
“Kita akan menonton film di mana ?? “ tanya Yoora dengan wajah melongonya, dan membuat MIR tertawa.
“Kenapa tertawa??”
“Kau terlihat sangat cantik dengan wajah bodoh itu” Yoora tersenyum sinis mendengar ucapan MIR meskipun ia tau jika itu hanya joke tapi ia sedikit sensi jika orang mengatakannya bodoh.
“Aish....” Yoora mengalihkan pandanganya pada papan besar yang ada di hadapan mereka saat ini.
“Kita mau menonton film apa ??” Yoora kembali bertanya.
“Tunggu sebentar” MIR mengambil HP dari saku celananya.
“Kami sudah datang, tolong putar film-nya”
Kilatan cahaya yang terpantu dari papan berwarna putih itu mengejutkan Yoora yang masih diliputi kebingungan. Beberapa potongan gambar kini terpampang di hadapan Yoora dan mampu membuatnya mematung memandangi gambar-gambar itu.
“Aku sengaja membuat ini khusus untuk mu” Film yang saat ini Yoora saksikan bisa jadi film paling romantis yang pernah ia lihat. Film itu menceritakan awal pertemuan Yoora dan MIR hingga mereka menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Semuanya di susun dalam potongan-potongan gambar dan irigan instrument yang begitu menyentuh.
“700 hari yang lalu saat pertama aku melihat senyum indah mu, saat itu juga aku ingin selalu melihat mu, melewati setiap detik waktu bersama mu, karena setiap hari aku selalu ingin mencintai mu dengan tulus” ucap MIR di hadapan Yoora, meskipun mata Yoora fokus melihat gamabr-gambar kebersamaan mereka namun telinga Yoora masih mendengar dengan jelas apa yang baru saja MIR ucapkan.
“700 hari yang lalu, ketika aku mengucapkan aku menyayangi mu maka aku akan mengorbankan apapun untuk kebahagian mu meskipun orang lain melihat ku sebagai seorang pecinta yang bodoh dan sakit namun aku yakin bahwa kau lah yang aku mau” lanjut MIR.
“Tidak mudah untuk mencintai mu, namun kau memberikan ku kekuatan untuk selalu menjaga rasa cinta ku pada mu....”
“Yoora....” kali ini Yoora mengalihkan pandangan nya kepada MIR, mereka berdua kini membanjiri wajah mereka dengan airmata.
“Yoora terima kasih telah bertahan untuk selalu menyayangi ku meskipun dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini”
Yoora segera menghambur dalam pelukan MIR, membiarkan airmatanya tumpah di dada MIR, demikian juga dengan MIR ia pun membiarkan Yoora untuk melepaskan tangisnya.
“Aku sangat mencintai mu Yoora”
)))
“DOOORRRR !!!” MIR dan Yoora tersentak, seketika kepanikan menyergap mereka puluhan lampu motor besar menerangi wajah mereka berdua. Puluhan laki-laki berbadan besar mengelilingi mobil yang saat ini mereka naiki. Yoora memegang erat tangan MIR, wajahnya berubah pucat dan sangat ketakutan.
“Jangan takut aku akan melindungi mu” ucap MIR mencoba menenangkan Yoora namun tangan Yoora semakin erat menggenggam tangan MIR.
“Mereka pasti orang suruhan ayahku, apa yang akan mereka lakukan pada kita” ucap Yoora terisak.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh mu” namun tiba-tiba 4 orang laki-laki berbadan besar menarik paksa mereka untuk keluar dari mobil dan memisasahkan mereka berdua.
“Lepaskan !!! MIR !!” teriak Yoora yang sama sekali tidak berdaya berada dalam sekapan bodyguard berbadan besar itu.
“Lepaskan Yoora !!!” teriak MIR namun terikan itu sama sekali tidak berarti, para bodyguard tetap menyekap Yoora.
“Jangan sentuh Yoora!!!” sesaat semua mata tertuju pada seorang laki-laki bertubuh besar dan berpakaian serba hitam yang baru saja turun dari dalam mobil. Baik MIR dan Yoora sudah bisa menebak siapa lelaki yang datang.
“Ayah....!!” ucap Yoora
“Ayah sudah memperingatkan mu, namun kau sama sekali tidak mendengarkan ayah sekarang kau harus menanggung resikonya”
“Aku akan menerima semua hukuman dari ayah, tapi tolong lepaskan MIR” Yoora memohon pada ayahnya dengan iba, sementara ayahnya sama sekali tidakmengubris ucapan anak satu2nya itu ia berjalan mendekati MIR.
“Kau ingin bermain-main dengan ku rupanya” ucap auah Yoora tepat didepan wajah MIR yang lebam karena menerima pukulan dari para bodyguard Kim Sooro.
“Untuk terakhir kalinya aku bicara pada mu akhiri hubungan mu dengan Yoora”
“Aku tidak akan mengakhiri hubungan ku dengan Yoora” Kim Sooro tersenyum sinis, ia mengangkat tangan kanannya seperti sebuah kode memanggi para pengawalnya. 3 orang lelaki bertubuh besar tanpa banyak basa-basi segera mendaratkan beberapa tinjuan dan tendangan ke tubuh MIR yang tak berdaya.
“Ayah jangan lakukan itu, aku mohon lepaskan MIR, aku mohon ayah...” Yoora tidak dapat menyembunyikan ketakutannya atas perbuatan ayahnya.
“Sekali lagi aku katakan pada mu, kau harus mengakhiri hubungan mu dengan Yoora, jika kau masih ingin hidup” MIR tetap pada keputusannya untuk tidak mengakhiri hubungannya dengan Yoora.
“Aku ti..tidak akan melepaskan Yoo...Yoora “ ucap MIR dengan wajah penuh darah sementara Yoora lemas melihat kondisi MIR yang yang mengenaskan. Wajah Kim Sooro semakin marah mendengar ucapan MIR, tanpa ragu ia kemudian menodongkan pistol di kepala Yoora anaknya sendiri. Sontak Yoora kaget begitu juga MIR bahkan ia lebih terkejut. Kim Sooro kemudian menarik Yoora dengan todongan pistol di kepalanya ia kemudian membawa Yoora di hadapan MIR.
“Katakan pada Yoora jika kau akan mengakhiri hubungan kalian, atau Yoora yang akan merasakan peluru ini “ ucap Kim Sooro tanpa ragu.
“Ja..Jangan lakukan itu, jangan sakiti Yoora-ku” ucap MIR menjadi panik, sementara Yoora mengelengkan kepalanya.
“jika kau benar-benar ingin Yoora selamat, sekarang cepat katakan pada Yoora bahwa kau akan melepaskan nya dan membiarkan Yoora menikah dengan orang lain” Yoora menggelangkan kepalanya berharap agar MIR tidak melakukannya, MIR begitu berat untuk mengucapkan kalimat itu bahkan kalimat itu hampir tidak bisa ia ucapkan ia hanya bisa menatap wajah kekasihnya yang menderita karenanya.
“Yoora...”ucap MIR lirih
“tolong jangan katakan itu” balas Yoora takkalah lirih, sementara Kim Sooro telah mengatur posisi peluru dari pistolnya.
“Yoora...mianhe, jeongmal mianhe. Kali ini aku tidak bisa melindungi mu, aku tidak bisa menepati janjiku pada mu...”
“MIR...” Yoora menangis dibawah todongan pistol ayahnya sendiri.
“nan dangsin-eul hangsang salang—apapun yang terjadi aku selalu sayang pada mu, kali ini aku mohon padamu ikutlah bersama ayah mu...”
“Andwe, dangsingwa hamkke issgo sip-eo—aku ingin bersama mu” ucap Yoora diantara tangisannya.
“Yoora aku mohon pada mu...kau sudah cukup menderita, aku tidak ingin kau tersakiti lagi. naneun gugeol “ Sontak Yoora memeluk MIR dan seketika itu juga Kim Sooro memisahkan mereka.
“Jika aku mengikuti keinginan ayah...maka ayah harus berjanji untuk membiarkan MIR tetap hidup”
“AH...Banyak bicara, cepat bawa Yoora pergi”
“MIR...” Yoora berusaha untuk memeluk MIR kembali namun tangan kekar ayahnya segera memisahkan mereka kembali.
Beberapa pengawal Kim Soora membawa pergi Yoora dengan paksa, sementara mata Yoora sama sekali tidak bisa melepaskan pandangannya pada wajah MIR yang terkulai lemah tak berdaya dan penuh darah. Sama sekali ia tidak mampu berkata apa-apa, ia hanya bisa menangis...dan kembali menangis, begitu juga dengan MIR hanya saja ia segera mengalihkan pandangannya hatinya begitu pedih melihat Yoora orang yang ia cintai harus merasakan ini semua.
“MIR... naneun dangsin-eul neomu salanghae” ucap Yoora lirih dan tertunduk menangis.
“DOOORRRRR !!!” Yoora segera membalikan badannya mendengar letupan tembakan itu. Sejenak ia termangu seluruh tubuhnya menjadi semakin lemas tak mampu menopangnya untuk berdiri, bibirnya begetar dan matanya semakin basah oleh aormata, ia yakin suara tembakan itu berasal dari pistol milik ayahnya dan yang menjadi korban tembakan itu adalah MIR. Yoora menghempaskan tubuhnya di tanah bersalju tipis, ia mencoba berteriak memanggil nama MIR namun ia tidak bisa mengeluarkan nya suaranya tertahan oleh isakan tangisnya.
“MIR...MIR...MIR GAJI MA” Ucapnya Lirih dan tak berdaya tangisnya semakin keras saat melihat ayahnya datang dan mendekatinya.
“Ayah sudah memperingatkan mu berulang kali, cepat bawa dia pergi dari sini “ mata sembab Yoora tak lepas memandangi tempat di mana terakhir kalinya ia bertemu dengan orang yang sangat ia sayangi.
“ MIR... nan neol salanghae...Jeongmal saranghae, halu naneun neol saranghaehabnida”
MIR POV
있을 수 있습니다하더라도
내가 멀어 보인다
내가 궁금해하지 마십시오
'내가 네 옆에 항상니까요
iss-eul su issseubnida hadeolado
naega meol-eo boinda
naega gung-geumhae haji masibsio
' naega ne yeop-e hangsang nikkayo
Even though there may be times
It seems I’m far away
Never wonder where I am
’Cause I am always by your side

Tidak ada komentar:
Posting Komentar